Dulu ia hanya seorang anak perempuan dari Madura yang berangkat ke Mekkah bersama orang tuanya dengan bekal mimpi dan keberanian. Usianya baru 13 tahun ketika langkah besar itu diambil, meninggalkan bangku sekolah demi bertahan hidup di tanah perantauan yang keras dan asing.
Nama Risma kala itu tak dikenal siapa pun. Ia hanyalah anak migran yang harus cepat dewasa, menghadapi realitas hidup di kota suci yang tak selalu ramah bagi mereka yang datang tanpa modal dan pendidikan tinggi.
Sekolah terpaksa ditinggalkan. Mimpi-mimpi masa kecil sempat terkubur oleh tuntutan hidup sehari-hari. Namun, di balik keterbatasan itu, tumbuh keteguhan yang kelak mengubah jalan hidupnya.
Risma bekerja apa saja yang bisa dikerjakan. Ia membantu hajatan, memasak makanan khas Arab, membersihkan dapur, hingga berjualan kecil-kecilan di pinggir jalan. Semua dijalani tanpa gengsi, tanpa keluhan.
Di bawah terik panas Mekkah dan tekanan ekonomi yang tak pernah berhenti, Risma bertahan bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk hidup. Setiap hari adalah perjuangan untuk esok yang lebih baik.
Titik balik datang ketika aturan terhadap pedagang kaki lima makin ketat. Usaha kecil yang selama ini menopang hidupnya terancam ditutup. Di saat banyak orang memilih menyerah, Risma justru mengambil keputusan besar.
Dengan modal nekat dan kemampuan memasak yang diasah dari pengalaman, ia membuka usaha tenda dan katering sederhana. Tidak ada dapur besar, tidak ada karyawan, hanya tangan sendiri dan keyakinan bahwa kerja jujur tak akan mengkhianati hasil.
Hari-hari awal dipenuhi kesepian dan kelelahan. Risma memasak sendiri, mengantar pesanan sendiri, dan menerima pesanan sekecil apa pun tanpa memilih-milih pelanggan.
Sedikit demi sedikit, kualitas masakan dan kejujuran dalam berusaha mulai dikenal. Dari mulut ke mulut, nama Risma menyebar di kalangan jamaah dan pekerja migran Indonesia di Mekkah.
Usaha kecil itu tumbuh perlahan namun pasti. Dari dapur sederhana, Risma mulai merekrut tenaga kerja, kebanyakan sesama perantau yang membutuhkan penghidupan.
Seiring waktu, Risma Catering Mekkah menjelma menjadi bisnis besar. Rumah produksi dibangun di kawasan Jabal Nur, lengkap dengan sistem distribusi yang rapi dan standar kebersihan tinggi.
Ia mendatangkan koki-koki dari Indonesia, menjaga cita rasa Nusantara tetap hidup di tengah kota suci. Masakannya menjadi pengobat rindu bagi ribuan jamaah Indonesia.
Saat musim umrah, pesanan mencapai 3.500 hingga 5.000 porsi per hari. Pada puncak musim haji, angka itu melonjak hingga lebih dari 10.000 porsi setiap hari.
Omzet yang dihasilkan mencapai ratusan juta rupiah per hari. Namun bagi Risma, angka itu bukan sekadar simbol kesuksesan, melainkan amanah yang harus dijaga.
Dari seorang anak putus sekolah, Risma kini menjadi perempuan yang menghidupi ratusan orang. Usahanya bukan hanya mesin ekonomi, tetapi juga ruang harapan bagi banyak perantau.
Di kalangan jamaah dan pekerja Indonesia, ia dikenal sebagai Bunda Risma. Julukan itu lahir bukan karena kekayaan, melainkan karena kepedulian dan keteguhannya membangun bersama.
Meski dijuluki miliarder Indonesia di Arab Saudi, Risma tetap menjalani hidup sederhana. Ia lebih sering terlihat di dapur, memastikan kualitas makanan, ketimbang tampil sebagai pengusaha besar.
Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan. Ketekunan, keberanian, dan kejujuran bisa menjadi guru terbaik dalam hidup.
Di tengah narasi kesuksesan yang sering didominasi gelar dan ijazah, perjalanan Bunda Risma menghadirkan pesan berbeda. Mimpi tidak pernah menanyakan latar belakang pendidikan, selama seseorang berani melangkah.
Dari Madura ke Mekkah, dari dapur kecil ke kerajaan katering, kisah Bunda Risma kini menjadi inspirasi lintas batas. Sebuah cerita tentang keteguhan perempuan Indonesia yang menaklukkan kerasnya hidup dengan kerja dan doa.
Post a Comment